Entah kenapa semua hal bila dibawa enjoy akan terasa enak
aja. Mungkin karena hati kita sudah terkondisi berlapang dada, apapun yang
terjadi. Ikhlas sebutan keren-nya. Jadi
jika pagi-pagi istri sudah `nyanyi rock`,
ayah cepat dong jangan telepon terus,
pagi-pagi kan pada repot. Padahal si ayah sedang terima telepon ayah
mertuanya yang panjang lebar minta tolong komputernya diperbaiki. Sang suami
nyantai aja nanggepi-nya, tidak membalas `nyanyian`
istri itu dengan `nyanyian` pula. Iya neng sayang, jawabnya mesra sembari telapak
tangannya menutup mikropon telepon. Papa,
maaf Al mau panasin mobil dulu ya, anak-anak sudah siap berangkat ke sekolah,
assalamu`alaikum Pa..
Si suami paham betapa sibuknya seorang ibu di pagi hari. Menyiapkan
sarapan, bekal, perangkat sekolah anak-anak dan seterusnya. Belum lagi peran istri
yang melayani keperluan suaminya sebelum ia berangkat kerja. Tapi paham saja
belum cukup, harus ditindaklanjuti dengan tindakan yang bisa membantu istri
menghadapi `hiruk pikuknya` suasana
pagi.
Coba, andai saja sang suami begini; Mama gimana sih, ini kan papa lagi ngomong minta ayah betulin
komputernya yang rusak. Bisa durhaka loh! Raut muka si suami merah padam
diliputi emosi. Wah wah wah pagi yang tak asyik kalau begini. Apalagi jika si
istri melanjutkan nyanyian dengan `alat musik` pula. Dijamin hati jadi tak enak
menjalani hari. Ya suami, ya sang istri juga.
Terjawab sudah kan, kenapa hari kita terasa enak aja bawaannya
dalam situasi apapun. Terlebih saat kita berada dalam kondisi yang kadang
memancing emosi kita. Kuncinya satu; milikilah sifat ikhlas. Dan untuk memiliki sifat ikhlas ini perlu kepahaman. Paham akan
sifat dan kondisi sesuatu. Sehingga dari sifat ikhlas ini kita berlapang dada,
bahwa semua bisa dihadapi dengan cara baik-baik dan santun. Demikianlah, salam
enak..!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar