Rabu, 19 Desember 2012

MAKI, Mak Ijah..


Hampir saja keluar makian dari mulut mungil Erisa setiap bertemu Mak Ijah. Entah sudah berapa kali Mak Ijah datang ke rumahnya. Bosan juga aku, kata Erisa dalam hati. Bukan apa-apa, soalnya pasti minta bantuan. Pinjam beras, pinjam uang, pinjam ini itu atau utang lainnya. Tetangga lain juga begitu, tapi Mak Ijahlah yang paling sering.

"Assalamu'alaikum..!"

Terdengar suara orang mengucap salam dari depan rumah, pasti Mak Ijah, pikir Erisa.
Anto, suaminya Erisa kemarin wanti-wanti,

"Besok Aida dan Azka mau bayar SPP, ingat lho! Uang yang Mas beri dijaga jangan sampai lenyap."

Erisa tersenyum, kemudian keluar menemui Mak Ijah. Seperti biasa, Mak Ijah duduk di lantai. Ah, padahal sudah Erisa ingatkan, dirinya sangat tidak suka melihat pemandangan itu.

"Wa'alaikum salam.. Ada apa ya, Mak?" tanya Erisa.

Istri Anto yang terkenal ramah itu menyungging senyum dan mengajak Mak Ijah masuk. Tapi Mak Ijah menolak.

"Mbak Erisa, maafkan Emak," ujar Mak Ijah agak gugup.

"Kemarin, Emak janji mau bayar hutang, tapi maaf ya Mbak," lanjutnya lalu Mak Ijah terdiam.

"Si Juned sakit keras," kata Mak Ijah pelan, kepalanya tertunduk.

Erisa hanya bisa menelan ludah. Mak Ijah menatap lekat wajah Erisa. Ya Tuhan, kedua mata Mak Ijah menyorot lemah, ujar Erisa dalam hati.

"Emak butuh duit, Mbak. Si Juned menggigil terus, Emak mau bawa dia ke puskesmas dan Emak butuh juga buat makan hari ini," lanjut Mak Ijah serak.

Erisa terdiam, terus terang ia tidak tega juga.

"Hanya Mbak Erisa yang bisa Emak minta tolong. Dari tadi pagi Emak sudah cari duit, tapi tidak dapat," kata Mak Ijah lagi.

Sesaat suasana teras rumah hening. Ya Tuhan bagaimana ini, bayangan kedua anaknya besok pagi dan Juned yang kesakitan, melintas dalam benak Erisa. Dilihatnya Mak Ijah masih menunduk.

"Sebentar ya Mak," ucap Erisa.
Ia lalu beranjak masuk rumah sampai tubuhnya hilang dari pandangan Mak Ijah. Tak lama kemudian, Erisa keluar.

"Mak ini uang untuk berobat Juned dan belanja Emak," akhirnya pertahanan Erisa bobol juga.
Dengan keikhlasan yang penuh Erisa memberi uang yang ada pada Mak Ijah.

"Terima kasih banyak, Mbak," ucap Mak Ijah. Wajahnya berbinar kelihatan senang sekali.

"Secepatnya akan Emak kembalikan," ujarnya lagi, klise.
Setelah Mak Ijah pergi, Erisa dilanda kebingungan. Ia pun memanjatkan do'a.

"Ya Tuhan, tolonglah hamba, mudahkan segala persoalan hamba. Hanya tinggal beberapa ribu rupiah sekarang dan itu untuk makan sehari saja."

* * *

Pagi harinya,
"Mas, jangan marah ya.., Bunda mau cerita," lalu Erisa membeberkan semuanya. Nampak wajah suaminya berubah,

"Ya Tuhan! Bun, kemarin kan Mas bilang, jaga itu uang! Anak-anak kan butuh untuk SPP. Bunda kan tahu itu kebutuhan pokok. Gimana sih!" ia kemudian ngeloyor pergi.

Erisa mengejarnya, ya Tuhan, suaminya marah. Habis gimana, aku memang tak tahan lihat orang susah, begitu Erisa membatin.

"Mas Antooo! Mau kemana?" ucap Erisa setengah teriak.

Anto hanya diam, lalu keluar rumah. Erisa terduduk lesu. Tiba-tiba pintu ruang tamu diketuk dengan keras.
"Siapa?" tanya Erisa.

"Saya, Mbak!" jawab orang itu. Erisa membuka pintu,

"Oh Tuhan mau apalagi Mak Ijah pagi buta begini, aku pusing!" maki Erisa dalam hati.

"Mbak, bapaknya Juned tadi subuh pulang, Mbak!" kata Mak Ijah tersenyum.

"Terus?" Erisa bertanya agak ketus. Suami Mak Ijah memang kerja di Jakarta.

"Mandornya baik hati, Mbak! Bapaknya Juned ijin pulang diberi upah penuh dan uang berobat Juned," lanjut Mak Ijah, kemudian merogoh sesuatu dari balik bajunya.

"Ini Mbak, Mak kembalikan uang yang Mak pinjam semuanya, terima kasih ya Mbak Erisa." ujar Mak Ijah.

"Dan ini, Mbak.. Sedikit oleh-oleh." sambungnya lagi.

Sesaat Erisa melongo. Teringat, tadi ia sempat memaki Mak Ijah meski dalam hati. Cepat-cepat ia memohon ampun pada Tuhan sambil menatap Mak Ijah pergi. Matanya berkaca-kaca. Do'anya terkabul. Sungguh Tuhan Maha Mendengar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar