I love you! Aku cinta kamu!
Saudaraku, berapa kalikah kita mengucapkan kalimat itu kepada
suami/istri dalam sehari? Jelas, hanya kita sendiri yang tahu. Tapi
sebagian dari kita, mungkin bertanya: perlukah itu diucapkan setiap
hari?
Sudah sama-sama tahu kok, saling cinta, begitu mungkin pikir kita.
Tapi bisakah kita bayangkan apa efek yang mungkin bisa muncul dari
kalimat itu, dalam hati seorang istri, bila itu diucapkan seorang suami,
pada saat istrinya letih selesai mengurus pekerjaan rumah dan sibuk
mengasuh anak?
Ada juga anggapan seperti ini; kalimat itu hanya dibutuhkan oleh
mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada
sebelum atau pada awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah memasuki
tahun kesekian, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita sudah
tua membuat kita tidak membutuhkan lagi kalimat itu. Benarkah demikian?
Saudaraku, bisakah pula kita membayangkan, seperti apa verbalnya
ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada pasangan? Aih,
damainya hati bila pasangan mendengarkan ungkapan rasa cinta itu. Karena
sesungguhnya betapa perasaan manusia selamanya fluktuatif. Kadar
rasanya bisa berubah-ubah, rasa cinta, benci, takut, senang, dan
semacamnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Dan mungkin
fluktuasi perasaan itu sering tidak disadari dan tidak terungkap atau
disadari tapi tidak terungkap oleh kita.
Kita mungkin sering melihat lelahnya istri menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci sampai menjaga
dan merawat anak, bahkan sebagian sebagai pekerja. Kerja berat itu
sering kali tidak disertai dengan sarana tekhnologi yang mungkin dapat
memudahkannya.
Duh, pikiran apa yang ada di benak kita yang telah meyakinkan kita
begitu rupa bahwa makhluk mulia bernama istri tidak butuh ungkapan "I
love You, Aku cinta Kamu!" , apa karena ia seorang yang sibuk ini itu?
atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok
menggunakan cara anak-anak muda menyatakan cinta?
Sebagai evaluasi diri, bercermin pada realitas, entahlah mengapa kita
begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya
ungkapan kata? Mengapa kita begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka
rahasia hati kita yang sesungguhnya dan menyatakan secara sederhana dan
tanpa beban?
Aku ingin, aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abuAku ingin, aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
--Sapardi Djoko Damono
Kenyataan dalam keseharian hidup kita, bahwa setiap kita tidak akan
pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap
dirinya. Kita mungkin bisa menangkap itu dari sorotan mata dan gerak
tubuh, tapi detil perasaan itu tetap tidak tertangkap selama ia tidak
diungkap secara verbal.
Saudaraku, mungkin masalahnya hanya satu, kita sudah tidak biasa lagi
mengucap cinta -sesering dulu- yang akhirnya membuat kita kaku. Rasanya
tak ada salahnya, kita membiasakan diri lagi berucap; "ILU! I love you!
Aku cinta Kamu!" Kalau bukan kepada orang yang kita cintai, lalu
kepada siapa lagi? Kalau tidak dimulai dari sekarang,kapan lagi? Agar
cinta ini tetap selalu bersemi di hati adanya. Demikianlah, salam..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar