EMPATI, Emang pantasnya ngerti..

Musibah bisa menimpa siapa saja, tak kenal usia atau rupa, setiap
diri pernah mengalami. Diceritakan, keluarga Ayub tengah dirundung duka,
sedih hati. Musibah datang secara beruntun, silih berganti. Belum lama
ia sendiri mengalami kecelakaan mobil dan mendapat luka parah, hampir
saja mati. Dan kini anak laki-laki pertamanya yang berusia empat tahun
dan bersekolah di TK tewas ditabrak bis metromini, di saat ia menyebrang
bersama pembantunya yang bernama Dik Tini. Tentu saja reaksi awal Ayub
adalah memarahi Dik Tini habis-habisan sambil ia melarikan anaknya ke
ruang gawat darurat di rumah sakit terdekat sampai ia lupa tak beralas
kaki.
Namun saat dokter mengabarkan anaknya telah tiada, ia hanya dapat
duduk terkulai dan memasrahkan diri pada Sang Pencipta meskipun hati
masih terasa nyeri.
Saat orang-orang banyak berkunjung ke rumahnya, mulut Ayub terus
berkomat-kamit meluncurkan do'a seakan tak ada henti. Ia sedih melihat
istrinya terbaring lemah di atas ranjang karena begitu terguncang
kehilangan buah hati dalam sekejap, sang anak tinggali.
Yang lebih membuat Ayub pedih, adalah ucapan-ucapan tetangganya yang tidak sengaja terdengar olehnya, begini;
"Lagi sih pembantu masih kecil begitu dipercaya nganter sekolah, emangnya ibunya nggak bisa nganter sendiri."
"Ah benar-benar tak berperasaan, bagaimana jika sampai terdengar oleh istriku," gumam Ayub pelan sekali.
* * * * *
Kisah tentang musibah yang dialami keluarga Ayub memberi gambaran
kepada kita bahwa petaka bisa menimpa manusia sewaktu-waktu, seperti
halnya kesenangan hidup di dunia ini. Sesungguhnya dalam kehidupan yang fana,
manusia mengalami beragam peristiwa secara silih berganti. Ada yang
lahir, kawin, dan mati. Susah dan senang, kebahagiaan dan penderitaan,
kesempitan dan kelapangan hidup dipergilirkan Tuhan di antara
manusia-manusia ciptaan-Nya yang jumlahnya tidak cukup dihitung jari.
Tidak peduli orang baik atau jahat, siang dan malam, kaya dan miskin
dipergilirkan kepada mereka, dibagi-bagi.
Hanya bedanya bagi seorang yang beriman kepada Tuhan jika ia ditimpa
musibah maka ia memasrahkan diri kepada-Nya karena sesungguhnya segala
hal yang diperolehnya dalam kehidupan ini baik berupa harta maupun
keturunan adalah titipan dari Tuhan, bisa juga disebut cobaan atau
sedang diuji. Ia akan bersabar dan selalu mengingat-Nya setiap saat
setiap hari. Berprasangka baik kepada-Nya, pasti ada hikmah di balik
semua hal, termasuk soal musibah yang menimpa beramai-ramai atau
sendiri.
Sebagai bahan renungan, sekedar saling mengingati. Bila kita sedang
ditimpa musibah, tak ada lain cara kecuali memohon pertolongan, berdo'a
mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersabar terus yang tak cuma sekali.
Sebaliknya bila saudara kita ditimpa musibah berusahalah menempatkan
posisi diri di sisi orang yang tengah mendapat musibah atau sering
disebut empati. Mencoba mengerti dan menyadari bahwa kesusahan
dan kesenangan senantiasa dipergilirkan di antara manusia, dari bayi
sampai aki-aki . Saat ini orang lain yang ditimpa musibah, esoknya bisa
jadi kita yang terkena musibah tersebut, mari sadari.
Selayaknya kita jauhi sikap dari berkata yang bisa menyakiti hati
yang tengah pedih, walau berupa nasihat sekali pun, usahakan tak ada
yang terlukai. Ucapan para tetangga keluarga Ayub menunjukkan betapa
sulit bagi mereka berempati atau menyelami penderitaan orang lain,
mereka bukannya empati tapi antipati. Mereka juga lupa atau mungkin tak tahu bahwa ajal
di tangan Tuhan yang Maha Sakti. Peristiwa kecelakaan yang dialami anak
Ayub sekedar jalan bagi berlakunya kehendak-Nya yakni berpulangnya anak
Ayub tersebut ke hadirat-Nya, kodrat alami. Emang sepantasnyalah mereka
mengerti bahwa sungguh tidak tepat dalam keadaan keluarga Ayub tengah
ditimpa musibah lalu berkata menyalahi Ayub dan istri.
Maka bertandang, menziarahi orang yang sedang dirundung duka
tampaknya akan meringankan penderitaan yang bersangkutan yang sebenarnya
dirasa seperti tak bertepi. Tindakan kongkrit mulai dari membelai
punggung atau tangannya serara berkata, misalnya seperti ini; "Sabar ya, sayang,"
sampai membantunya secara mental dengan mendampinginya dan secara
material untuk meringankan sedikit bebannya, jauh lebih berarti dari
nasihat panjang lebar sana sini. Itu baru namanya empati, dan emang
sepantasnya, selayaknya kita mengerti. Demikianlah adanya, bukan
menggurui. Salam dan permisi..
Illustrasi : ceritanonabdinegara.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar