Jumat, 21 Desember 2012

EMPATI, Emang pantasnya ngerti..

 

Musibah bisa menimpa siapa saja, tak kenal usia atau rupa, setiap diri pernah mengalami. Diceritakan, keluarga Ayub tengah dirundung duka, sedih hati. Musibah datang secara beruntun, silih berganti. Belum lama ia sendiri mengalami kecelakaan mobil dan mendapat luka parah, hampir saja mati. Dan kini anak laki-laki pertamanya yang berusia empat tahun dan bersekolah di TK tewas ditabrak bis metromini, di saat ia menyebrang bersama pembantunya yang bernama Dik Tini. Tentu saja reaksi awal Ayub adalah memarahi Dik Tini habis-habisan sambil ia melarikan anaknya ke ruang gawat darurat di rumah sakit terdekat sampai ia lupa tak beralas kaki.

 

Namun saat dokter mengabarkan anaknya telah tiada, ia hanya dapat duduk terkulai dan memasrahkan diri pada Sang Pencipta meskipun hati masih terasa nyeri.

 

Saat orang-orang banyak berkunjung ke rumahnya, mulut Ayub terus berkomat-kamit meluncurkan do'a seakan tak ada henti. Ia sedih melihat istrinya terbaring lemah di atas ranjang karena begitu terguncang kehilangan buah hati dalam sekejap, sang anak tinggali.

 

Yang lebih membuat Ayub pedih, adalah ucapan-ucapan tetangganya yang tidak sengaja terdengar olehnya, begini;

 

"Lagi sih pembantu masih kecil begitu dipercaya nganter sekolah, emangnya ibunya nggak bisa nganter sendiri."

 

"Ah benar-benar tak berperasaan, bagaimana jika sampai terdengar oleh istriku," gumam Ayub pelan sekali.

 

* * * * *

 

Kisah tentang musibah yang dialami keluarga Ayub memberi gambaran kepada kita bahwa petaka bisa menimpa manusia sewaktu-waktu, seperti halnya kesenangan hidup di dunia ini. Sesungguhnya dalam kehidupan yang fana, manusia mengalami beragam peristiwa secara silih berganti. Ada yang lahir, kawin, dan mati. Susah dan senang, kebahagiaan dan penderitaan, kesempitan dan kelapangan hidup dipergilirkan Tuhan di antara manusia-manusia ciptaan-Nya yang jumlahnya tidak cukup dihitung jari. Tidak peduli orang baik atau jahat, siang dan malam, kaya dan miskin dipergilirkan kepada mereka, dibagi-bagi.

 

Hanya bedanya bagi seorang yang beriman kepada Tuhan jika ia ditimpa musibah maka ia memasrahkan diri kepada-Nya karena sesungguhnya segala hal yang diperolehnya dalam kehidupan ini baik berupa harta maupun keturunan adalah titipan dari Tuhan, bisa juga disebut cobaan atau sedang diuji. Ia akan bersabar dan selalu mengingat-Nya setiap saat setiap hari. Berprasangka baik kepada-Nya, pasti ada hikmah di balik semua hal, termasuk soal musibah yang menimpa beramai-ramai atau sendiri.

 

Sebagai bahan renungan, sekedar saling mengingati. Bila kita sedang ditimpa musibah, tak ada lain cara kecuali memohon pertolongan, berdo'a mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersabar terus yang tak cuma sekali.

 

Sebaliknya bila saudara kita ditimpa musibah berusahalah menempatkan posisi diri di sisi orang yang tengah mendapat musibah atau sering disebut empati. Mencoba mengerti dan menyadari bahwa kesusahan dan kesenangan senantiasa dipergilirkan di antara manusia, dari bayi sampai aki-aki . Saat ini orang lain yang ditimpa musibah, esoknya bisa jadi kita yang terkena musibah tersebut, mari sadari.

 

Selayaknya kita jauhi sikap dari berkata yang bisa menyakiti hati yang tengah pedih, walau berupa nasihat sekali pun, usahakan tak ada yang terlukai. Ucapan para tetangga keluarga Ayub menunjukkan betapa sulit bagi mereka berempati atau menyelami penderitaan orang lain, mereka bukannya empati tapi antipati. Mereka juga lupa atau mungkin tak tahu bahwa ajal di tangan Tuhan yang Maha Sakti. Peristiwa kecelakaan yang dialami anak Ayub sekedar jalan bagi berlakunya kehendak-Nya yakni berpulangnya anak Ayub tersebut ke hadirat-Nya, kodrat alami. Emang sepantasnyalah mereka mengerti bahwa sungguh tidak tepat dalam keadaan keluarga Ayub tengah ditimpa musibah lalu berkata menyalahi Ayub dan istri.

 

Maka bertandang, menziarahi orang yang sedang dirundung duka tampaknya akan meringankan penderitaan yang bersangkutan yang sebenarnya dirasa seperti tak bertepi. Tindakan kongkrit mulai dari membelai punggung atau tangannya serara berkata, misalnya seperti ini; "Sabar ya, sayang," sampai membantunya secara mental dengan mendampinginya dan secara material untuk meringankan sedikit bebannya, jauh lebih berarti dari nasihat panjang lebar sana sini. Itu baru namanya empati, dan emang sepantasnya, selayaknya kita mengerti. Demikianlah adanya, bukan menggurui. Salam dan permisi..

 

 

Illustrasi : ceritanonabdinegara.blogspot.com

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar