Saudaraku, suka atau tidak, cinta sudah menjadi kata yang menyatu dalam gerak hidup kita bahkan mendarah daging. Cinta sudah menjadi urusan kita sehari-hari. Bicara tentang cinta berarti tentang mencintai dan dicintai. Dan itu memang tidak mudah.
Tidak karena kita mencintai, lalu hendak memberi, atau kita menebar pesona kematangan kita melalui itu, maka cinta kita berbalas akan dicintai. Tidak semudah itu. Suka atau tidak, fakta ini memang pahit. Tapi begitulah adanya; kadang-kadang kita harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.
Sebabnya sederhana saja, saudaraku. Cinta itu banyak macamnya. Ada cinta misi, yaitu cinta yang memang kita rencanakan sejak awal. Cinta ini lahir dari misi yang suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung dengan kemampuan memberi. Misalnya cinta para nabi kepada umatnya, cinta pemimpin kepada rakyatnya, cinta ibu kepada anaknya, atau cintanya seorang guru kepada muridnya. Jiwa kita dan jiwa orang yang kita cintai tidak mesti bersatu. Cinta ini sering tidak berbalas. Lihatlah bagaimana para nabi-nabi itu dimusuhi umatnya, atau para ibu ditelantarkan anak-anaknya di usia tua, atau pemimpin yang baik dihujat rakyatnya, atau guru yang dilupakan murid-muridnya. Inilah cinta yang paling luhur, paling suci. Sebagian besar kebaikan yang kita saksikan dalam kehidupan kita, bahkan dalam sejarah umat manusia, sebenarnya buah dari cinta yang ini. Inilah cinta misi.
Ada jenis cinta yang lain, yaitu cinta jiwa. Cinta ini lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. Jiwa yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi biasanya akan saling mencintai. Cinta ini yang lazim ada dalam hubungan persahabatan dan perkawinan atau keluarga. Cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama; cinta tidak boleh bertepuk sebelah tangan di sini. Inilah cinta yang paling rumit. Serumit kimia jiwa manusia.
Cinta yang berikutnya adalah cinta kepentingan. Cinta ini dipertemukan oleh kesamaan kepentingan. Mereka bisa berbeda watak atau misi. Tapi kepentingan mereka sama, maka mereka saling mencintai. Misalnya hubungan baik yang lazim berkembang di dunia bisnis. Suara ramah dari penjawab telepon, atau senyum manis seorang pramugari, atau layanan sempurna seorang resepsionis hotel; semua berkembang dari kepentingan tapi efektif menciptakan kenyamanan jiwa. Kita adalah bagian dari pekerjaannya. Bukan jiwanya. Kita adalah kepentingannya. Bukan misinya.
Demikianlah, salam..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar