WAKTU, Wanita kena tipu?
Soal tipu-tipu, setiap orang mungkin sudah pernah ditipu, atau
setidaknya pernah merasa ditipu, hanya saja jarang ada yang mau mengaku
waktu kena tipu, membisu. Atau bisa saja karena tidak merasa banyak
dirugikan, maka dibiarkanlah kejadian itu berlalu. Padahal bagaimanapun
yang namanya ditipu baik rugi sedikit atau banyak tetap merupakan
peristiwa yang tidak mengenakkan, hati bisa risau mengganggu. Dan
wanita, entah dipandang dari sudut mana kerap menjadi korban penipuan,
seringkali ya begitu.
Tidak percaya itu? Coba lihat saja di pusat-pusat perbelanjaan waktu
menawarkan diskon besar terhadap barang tertentu, semisal tas, dompet,
baju dan sepatu. Yang tertarik datang berkunjung kebanyakan adalah
wanita, baik yang masih jomblo atau pun ibu-ibu. Padahal
mungkin barang yang didiskon hanya sebagian kecil dari seluruh produk
yang ditawarkan dan biasanya juga barang yang sudah hampir masuk gudang
alias barang tak laku. Memang sulit untuk menyebut kejadian di atas
sebagai bentuk penipuan produsen atas konsumen yang kadang lugu. Tapi
kita tidak melihat praktek-praktek seperti itu dari segi hukum yang
berlaku. Yang menjadi penekanan adalah bahwa; wanita mudah sekali 'tertipu'
oleh produsen, bisa dibilang gampang terkena bujuk rayu. Belum lagi
jika ternyata produk yang didiskon adalah produk yang tidak minat dibeli
sedangkan untuk pulang dengan tangan kosong juga tak enak, terpaksa
harus beli barang lain dulu. Dan biasanya tanpa terasa karena saking
asyiknya melihat-lihat barang yang dipajang, isi dompet pun semakin
banyak berkurang satu demi satu. Padahal bisa saja barang yang dibeli
tidak begitu penting bagi kebutuhannya, aah bisa tidak dibilang sungguh
terlalu. Waktu juga banyak terbuang ketika harus mengelilingi pusat
perbelanjaan yang luasnya sampai bertingkat-tingkat, walhasil membuat
tubuh lelah lesu.
Itu baru satu kasus, lalu; kehilangan harta mungkin menyakitkan,
tetapi lebih menyakitkan lagi manakala seorang wanita kehilangan
kehormatan yang cuma ada satu. Anehnya betapa sedikit para wanita yang
mengambil pelajaran dari kasus tersebut, sebagian darinya mungkin karena
menganggap tabu. Koran, majalah dan berbagai media acapkali
memberitakan demikian banyak gadis ditipu kekasihnya, yang membuat hati
menjerit pilu. Diiming-imingi akan dinikahi dan berjanji sehidup semati
serta bertanggung jawab atas segala yang terjadi namun akhirnya kabur
tak tahu rimbanya ketika mengetahui sang gadis hamil di luar nikah alias
tanpa penghulu. Tinggallah gadis itu merenung meratapi nasib yang
ujungnya sendiri ia tak tahu. Mengadu kepada yang berwajib atau lembaga
tertentu? Bukan penyelesaian yang didapatkan malah aib semakin
dibeberkan, menanggung malu. Sebab yang terjadi sebenarnya bukanlah
perkosaan tetapi penipuan, sungguh saru! Ya, penipuan seorang
pria kepada seorang wanita yang mudah terpengaruh bujuk dan rayuan
dengan resiko hilang kehormatan yang seharusnya dijaga selalu.
Menimpakan kesalahan kepada sang penipu juga bukan suatu tindakan yang
menyelesaikan, bisa jadi malah semakin rancu. Tampaknya introspeksi,
teliti serta mawas diri merupakan jalan yang bijaksana yang bisa
ditempuh terutama wanita untuk menghindari aksi tipu-tipu. Terakhir,
semoga saja sang waktu tak memberi kesempatan lagi kepada para penipu
yang belagu itu untuk mendapatkan korban berikutnya yang baru.
Bagaimana, setuju?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar