Senin, 24 Desember 2012

WAKTU, Wanita kena tipu?

Soal tipu-tipu, setiap orang mungkin sudah pernah ditipu, atau setidaknya pernah merasa ditipu, hanya saja jarang ada yang mau mengaku waktu kena tipu, membisu. Atau bisa saja karena tidak merasa banyak dirugikan, maka dibiarkanlah kejadian itu berlalu. Padahal bagaimanapun yang namanya ditipu baik rugi sedikit atau banyak tetap merupakan peristiwa yang tidak mengenakkan, hati bisa risau mengganggu. Dan wanita, entah dipandang dari sudut mana kerap menjadi korban penipuan, seringkali ya begitu.

 

Tidak percaya itu? Coba lihat saja di pusat-pusat perbelanjaan waktu menawarkan diskon besar terhadap barang tertentu, semisal tas, dompet, baju dan sepatu. Yang tertarik datang berkunjung kebanyakan adalah wanita, baik yang masih jomblo atau pun ibu-ibu. Padahal mungkin barang yang didiskon hanya sebagian kecil dari seluruh produk yang ditawarkan dan biasanya juga barang yang sudah hampir masuk gudang alias barang tak laku. Memang sulit untuk menyebut kejadian di atas sebagai bentuk penipuan produsen atas konsumen yang kadang lugu. Tapi kita tidak melihat praktek-praktek seperti itu dari segi hukum yang berlaku. Yang menjadi penekanan adalah bahwa; wanita mudah sekali 'tertipu' oleh produsen, bisa dibilang gampang terkena bujuk rayu. Belum lagi jika ternyata produk yang didiskon adalah produk yang tidak minat dibeli sedangkan untuk pulang dengan tangan kosong juga tak enak, terpaksa harus beli barang lain dulu. Dan biasanya tanpa terasa karena saking asyiknya melihat-lihat barang yang dipajang, isi dompet pun semakin banyak berkurang satu demi satu. Padahal bisa saja barang yang dibeli tidak begitu penting bagi kebutuhannya, aah bisa tidak dibilang sungguh terlalu. Waktu juga banyak terbuang ketika harus mengelilingi pusat perbelanjaan yang luasnya sampai bertingkat-tingkat, walhasil membuat tubuh lelah lesu.

 

Itu baru satu kasus, lalu; kehilangan harta mungkin menyakitkan, tetapi lebih menyakitkan lagi manakala seorang wanita kehilangan kehormatan yang cuma ada satu. Anehnya betapa sedikit para wanita yang mengambil pelajaran dari kasus tersebut, sebagian darinya mungkin karena menganggap tabu. Koran, majalah dan berbagai media acapkali memberitakan demikian banyak gadis ditipu kekasihnya, yang membuat hati menjerit pilu. Diiming-imingi akan dinikahi dan berjanji sehidup semati serta bertanggung jawab atas segala yang terjadi namun akhirnya kabur tak tahu rimbanya ketika mengetahui sang gadis hamil di luar nikah alias tanpa penghulu. Tinggallah gadis itu merenung meratapi nasib yang ujungnya sendiri ia tak tahu. Mengadu kepada yang berwajib atau lembaga tertentu? Bukan penyelesaian yang didapatkan malah aib semakin dibeberkan, menanggung malu. Sebab yang terjadi sebenarnya bukanlah perkosaan tetapi penipuan, sungguh saru! Ya, penipuan seorang pria kepada seorang wanita yang mudah terpengaruh bujuk dan rayuan dengan resiko hilang kehormatan yang seharusnya dijaga selalu. Menimpakan kesalahan kepada sang penipu juga bukan suatu tindakan yang menyelesaikan, bisa jadi malah semakin rancu. Tampaknya introspeksi, teliti serta mawas diri merupakan jalan yang bijaksana yang bisa ditempuh terutama wanita untuk menghindari aksi tipu-tipu. Terakhir, semoga saja sang waktu tak memberi kesempatan lagi kepada para penipu yang belagu itu untuk mendapatkan korban berikutnya yang baru. Bagaimana, setuju?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar