Tahun baru kali ini kembali diawali dengan perang mercon antar RT.
Belum lagi arak-arakan konvoi kendaraan keliling kota melewati kediaman
Ane merayakan tahun baru. Ditingkahi bunyi terompet dan letupan kembang
api. Si kecil Ipul,-keponakan Ane-ikut-ikut merengek minta uang buat
beli kembang api. Padahal kaki kecilnya yang putih sudah mulai
dihinggapi borok-borok kecil akibat percikan bunga api.
Coba kalau
Bapak masih ada. Mana berani tuh anak-anak, begitu pikir Ane. Bapak
paling marah kalau ada keponakan atau anaknya membeli kembang api atau
petasan. Sama dengan bakar uang katanya. Yah! Bapak memang paling tidak
suka perilaku pemboros atau menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang
tidak berguna.
Tentu saja anak-anak kesal sama Bapak karena
dilarang beli kembang api, petasan ataupun mercon. Ane lupa, waktu Ane
kecil, apa ia juga marah ketika dilarang beli kembang api oleh Bapak ya?
Dulu, Ane selalu beranggapan Bapak adalah orang yang paling
galak sedunia. Kerjaannya cuma melarang atau menyuruh. Sekarang, setelah
Ane dewasa, Ane mulai mengerti kenapa mereka berbuat seperti itu.
Waktu
kecil dunia memang begitu sempit. Ane juga pastinya cuma mampu
mengembangkan wawasan sebatas dunia anak-anak. Jika Bapak melarang atau
menyuruh, Ane hanya menganggapnya sebagai bentuk dominasi orang dewasa
terhadap anak-anak. Sebuah show force yang menyebalkan.
Sekarang
setelah alih generasi, Ane mulai mengerti hikmah dibalik semua larangan
dan perintah itu. Ane jadi malu sendiri. Dan di penghujung tahun ini,
saat Ane menatap langit malam terang benderang oleh bunga api dan suara
mercon, tiba-tiba Ane merasa kangen sama Bapak yang wafat selagi Ane
duduk di kelas dua SMP. Tanpa terasa air mata hangatnya keluar mengalir
membasahi pipi. Sungguh, Ane rindu sekali sama Bapak.
Tar!
Suara
mercon di samping rumah mengagetkan Ane, dan ia sembari menyeka air
mata bergegas keluar rumah hendak menasihati anak-anak yang sedang main
petasan. Seperti nasihat Bapak dulu. Ya, harus ada yang meneruskan
kebiasaan Bapak meski sekarang dengan cara berbeda, lebih bijak lagi.
Ah, mudah-mudahan mereka mengerti, begitu harapan Ane adanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar