Senin, 31 Desember 2012

TAR! Tahun baru..!

Tahun baru kali ini kembali diawali dengan perang mercon antar RT. Belum lagi arak-arakan konvoi kendaraan keliling kota melewati kediaman Ane merayakan tahun baru. Ditingkahi bunyi terompet dan letupan kembang api. Si kecil Ipul,-keponakan Ane-ikut-ikut merengek minta uang buat beli kembang api. Padahal kaki kecilnya yang putih sudah mulai dihinggapi borok-borok kecil akibat percikan bunga api.

Coba kalau Bapak masih ada. Mana berani tuh anak-anak, begitu pikir Ane. Bapak paling marah kalau ada keponakan atau anaknya membeli kembang api atau petasan. Sama dengan bakar uang katanya. Yah! Bapak memang paling tidak suka perilaku pemboros atau menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak berguna. 

Tentu saja anak-anak kesal sama Bapak karena dilarang beli kembang api, petasan ataupun mercon. Ane lupa, waktu Ane kecil, apa ia juga marah ketika dilarang beli kembang api oleh Bapak ya?
Dulu, Ane selalu beranggapan Bapak adalah orang yang paling galak sedunia. Kerjaannya cuma melarang atau menyuruh. Sekarang, setelah Ane dewasa, Ane mulai mengerti kenapa mereka berbuat seperti itu.

Waktu kecil dunia memang begitu sempit. Ane juga pastinya cuma mampu mengembangkan wawasan sebatas dunia anak-anak. Jika Bapak melarang atau menyuruh, Ane hanya menganggapnya sebagai bentuk dominasi orang dewasa terhadap anak-anak. Sebuah show force yang menyebalkan.

Sekarang setelah alih generasi, Ane mulai mengerti hikmah dibalik semua larangan dan perintah itu. Ane jadi malu sendiri. Dan di penghujung tahun ini, saat Ane menatap langit malam terang benderang oleh bunga api dan suara mercon, tiba-tiba Ane merasa kangen sama Bapak yang wafat selagi Ane duduk di kelas dua SMP. Tanpa terasa air mata hangatnya keluar mengalir membasahi pipi. Sungguh, Ane rindu sekali sama Bapak. 

Tar! 

Suara mercon di samping rumah mengagetkan Ane, dan ia sembari menyeka air mata bergegas keluar rumah hendak menasihati anak-anak yang sedang main petasan. Seperti nasihat Bapak dulu. Ya, harus ada yang meneruskan kebiasaan Bapak meski sekarang dengan cara berbeda, lebih bijak lagi. Ah, mudah-mudahan mereka mengerti, begitu harapan Ane adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar