Bagi sebagian orang, hari kamis malam dianggap sebagai malam kewajiban. Ya, kewajiban saling menafkahi batin antara suami dan istri dengan cara berhubungan badan. Mungkin ada juga pasangan yang tidak pernah absen beradu tubuh di setiap kamis malam. Maka jadilah kamis malam itu indentik dengan yang enak-enak. Padahal sesungguhnya tak ada batasan baku tentang frekuensi hubungan seks suami istri. Bukankah birahi bisa datang kapan saja tanpa mengenal waktu? Bisa pagi buta di hari senin, bisa tengah malam di hari sabtu, atau bisa pula setiap hari. Biasanya pada masa pengantin baru, saat bulan madu, hubungan seks bisa melebihi dosis minum obat. Itu bagi mereka yang libidonya memang tinggi. Mungkin ada juga pengantin baru yang hanya melakukan hubungan seks seminggu tiga kali, atau malah satu kali.
Boleh dibilang setiap pasangan memiliki frekuensi yang berbeda-beda dalam melakukan hubungan seks. Karenanya jangan sampai pasangan yang libidonya rendah memaksakan diri untuk "tinggi", berupaya sekuat tenaga untuk berhubungan seks seperti dosis minum obat anu ini itu lah, apalagi dengan mengonsumsi berbagai macam suplemen penambah gairah semisal viagra dan sejenisnya. Sepertinya yang perlu diperhatikan adalah kualitas hubungan seks tersebut. Adalah percuma juga memaksakan hubungan seks dengan kuantitas yang banyak, tapi ujung-ujungnya tidak berkualitas, umpamanya salah satu pasangan tidak merasakan kenikmatan seks, atau bahkan merasa sakit, perih dan lecet.
Dari bacaan atau media lain yang kita baca dan ketahui, baik kualitas maupun kuantitas, hubungan seks sangat dipengaruhi faktor-faktor fisik dan psikis. Terlalu lelah bekerja, kekurangan gizi atau sering sakit, dapat menyebabkan stamina dan vitalitas menurun sehingga minat terhadap seks menjadi rendah. Otomatis, frekuensi seks pun menjadi berkurang. Pun bila keadaan psikis sedang labil; marah, banyak masalah. Maka frekuensi hubungan seks akan menurun.
Namun apapun itu, enaknya bersetubuh yang enggak cuma kamis atau hari lainnya tidak menjadikan kita lupa akan satu hal; cinta dan kasih sayang. Karena sesungguhnya cinta dan kasih sayang antara pasangan tidak selalu ditandai dengan hubungan seks. Bukankah demikian? Salam..
*illustrasi asal comot


Tidak ada komentar:
Posting Komentar