"Hhmm, baca apa, Dik? Sampai bengong begitu," sebuah suara bariton membuyarkan lamunanku.
Spontan saja aku menengok sembari kubereskan buku-buku, kertas, dan surat-surat yang bergeletakan.
"Oh..eeh..ini
Masku, aku nemu kartu lebaran waktu masih kuliah dulu," kataku sedikit
gugup, kuangsurkan kartu lebaran itu pada Mas Al, suamiku.
"Nah ya, ceritanya mengenang masa lalu nih yee..," goda Mas Al.
Aku tersipu malu. Mulutku merengut keki. Mas Al tergelak. Dikucaknya jilbab biruku.
"Hehe..
Kalau misalnya Dik Mala nggak segera menikah dengan mas waktu itu,
mungkin Dik Mala sudah jadi nyonya Zaki ya??" goda suamiku lagi.
Ah,
tiba-tiba kenangan itu berkelebat melintas pikiranku. Pengirim kartu
lebaran itu Zaki, ia hampir saja membuatku terlena, nyaris membuai
diriku yang saat itu mendamba kehadiran sosok laki-laki santun sebagai
pendamping hidup. Andai saja Neti -teman satu kampusku- tak cerita bahwa
ia jatuh cinta pada Zaki dan mengaku Zaki pun membalas cintanya,
mungkin aku sudah dalam genggaman Zaki. Laki-laki playboy itu juga
intens menyambangiku dan mengumbar kata cinta. Segera kutepis kenangan
masa lalu itu.
"Masku sayang.. Jodoh itu kan Tuhan yang ngatur,
Dia yang maha Tahu. Jodohku pasti sebanding, dan tentunya terbaik buat
aku," kataku, mataku melirik genit suamiku.
"Ah, apa iya??!" ujar suamiku seperti meledek, sambil memelukku dari belakang.
"Iyaaa..," tandasku.
Mas
Al tergelak-gelak sampai keluar airmatanya. Aku merajuk gemas. Kucubit
lengan suamiku keras-keras. Ia meringis kesakitan. Tawa kami berderai
beriringan. Lalu kami berhadapan wajah dan berpandangan penuh cinta
kasih. Kupeluk erat-erat tubuh tegap suamiku seakan takut kehilangan.
Bahagia rasanya. Terima kasih Tuhan, Kau berikan orang yang begitu
santun kepadaku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar