Senin, 31 Desember 2012

ILU, I love you..

I love you! Aku cinta kamu!

Saudaraku, berapa kalikah kita mengucapkan kalimat itu kepada suami/istri dalam sehari? Jelas, hanya kita sendiri yang tahu. Tapi sebagian dari kita, mungkin bertanya: perlukah itu diucapkan setiap hari?

Sudah sama-sama tahu kok, saling cinta, begitu mungkin pikir kita. Tapi bisakah kita bayangkan apa efek yang mungkin bisa muncul dari kalimat itu, dalam hati seorang istri, bila itu diucapkan seorang suami, pada saat istrinya letih selesai mengurus pekerjaan rumah dan sibuk mengasuh anak?

Ada juga anggapan seperti ini; kalimat itu hanya dibutuhkan oleh mereka yang romantis dan sedang jatuh cinta, dan itu biasanya ada sebelum atau pada awal-awal pernikahan. Setelah usia nikah memasuki tahun kesekian, realita dan rutinitas serta perasaan bahwa kita sudah tua membuat kita tidak membutuhkan lagi kalimat itu. Benarkah demikian?

Saudaraku, bisakah pula kita membayangkan, seperti apa verbalnya ungkapan rasa cinta yang semestinya kita berikan kepada pasangan? Aih, damainya hati bila pasangan mendengarkan ungkapan rasa cinta itu. Karena sesungguhnya betapa perasaan manusia selamanya fluktuatif. Kadar rasanya bisa berubah-ubah, rasa cinta, benci, takut, senang, dan semacamnya tidak akan pernah sama dari waktu ke waktu. Dan mungkin fluktuasi perasaan itu sering tidak disadari dan tidak terungkap atau disadari tapi tidak terungkap oleh kita.
Kita mungkin sering melihat lelahnya istri menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci sampai menjaga dan merawat anak, bahkan sebagian sebagai pekerja. Kerja berat itu sering kali tidak disertai dengan sarana tekhnologi yang mungkin dapat memudahkannya.

Duh, pikiran apa yang ada di benak kita yang telah meyakinkan kita begitu rupa bahwa makhluk mulia bernama istri tidak butuh ungkapan "I love You, Aku cinta Kamu!" , apa karena ia seorang yang sibuk ini itu? atau karena kita sudah sama-sama tua dan karenanya tidak cocok menggunakan cara anak-anak muda menyatakan cinta?

Sebagai evaluasi diri, bercermin pada realitas, entahlah mengapa kita begitu pelit untuk memberikan sesuatu yang manis walaupun itu hanya ungkapan kata? Mengapa kita begitu angkuh untuk mau merendah dan membuka rahasia hati kita yang sesungguhnya dan menyatakan secara sederhana dan tanpa beban?

Aku ingin, aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin, aku ingin mencintaimu dengan sederhana: dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

--Sapardi Djoko Damono

Kenyataan dalam keseharian hidup kita, bahwa setiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap dirinya. Kita mungkin bisa menangkap itu dari sorotan mata dan gerak tubuh, tapi detil perasaan itu tetap tidak tertangkap selama ia tidak diungkap secara verbal.

Saudaraku, mungkin masalahnya hanya satu, kita sudah tidak biasa lagi mengucap cinta -sesering dulu- yang akhirnya membuat kita kaku. Rasanya tak ada salahnya, kita membiasakan diri lagi berucap; "ILU! I love you! Aku cinta Kamu!" Kalau bukan kepada orang yang kita cintai, lalu kepada siapa lagi? Kalau tidak dimulai dari sekarang,kapan lagi? Agar cinta ini tetap selalu bersemi di hati adanya. Demikianlah, salam..

TAR! Tahun baru..!

Tahun baru kali ini kembali diawali dengan perang mercon antar RT. Belum lagi arak-arakan konvoi kendaraan keliling kota melewati kediaman Ane merayakan tahun baru. Ditingkahi bunyi terompet dan letupan kembang api. Si kecil Ipul,-keponakan Ane-ikut-ikut merengek minta uang buat beli kembang api. Padahal kaki kecilnya yang putih sudah mulai dihinggapi borok-borok kecil akibat percikan bunga api.

Coba kalau Bapak masih ada. Mana berani tuh anak-anak, begitu pikir Ane. Bapak paling marah kalau ada keponakan atau anaknya membeli kembang api atau petasan. Sama dengan bakar uang katanya. Yah! Bapak memang paling tidak suka perilaku pemboros atau menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak berguna. 

Tentu saja anak-anak kesal sama Bapak karena dilarang beli kembang api, petasan ataupun mercon. Ane lupa, waktu Ane kecil, apa ia juga marah ketika dilarang beli kembang api oleh Bapak ya?
Dulu, Ane selalu beranggapan Bapak adalah orang yang paling galak sedunia. Kerjaannya cuma melarang atau menyuruh. Sekarang, setelah Ane dewasa, Ane mulai mengerti kenapa mereka berbuat seperti itu.

Waktu kecil dunia memang begitu sempit. Ane juga pastinya cuma mampu mengembangkan wawasan sebatas dunia anak-anak. Jika Bapak melarang atau menyuruh, Ane hanya menganggapnya sebagai bentuk dominasi orang dewasa terhadap anak-anak. Sebuah show force yang menyebalkan.

Sekarang setelah alih generasi, Ane mulai mengerti hikmah dibalik semua larangan dan perintah itu. Ane jadi malu sendiri. Dan di penghujung tahun ini, saat Ane menatap langit malam terang benderang oleh bunga api dan suara mercon, tiba-tiba Ane merasa kangen sama Bapak yang wafat selagi Ane duduk di kelas dua SMP. Tanpa terasa air mata hangatnya keluar mengalir membasahi pipi. Sungguh, Ane rindu sekali sama Bapak. 

Tar! 

Suara mercon di samping rumah mengagetkan Ane, dan ia sembari menyeka air mata bergegas keluar rumah hendak menasihati anak-anak yang sedang main petasan. Seperti nasihat Bapak dulu. Ya, harus ada yang meneruskan kebiasaan Bapak meski sekarang dengan cara berbeda, lebih bijak lagi. Ah, mudah-mudahan mereka mengerti, begitu harapan Ane adanya.

Rabu, 26 Desember 2012

BERTANYA, Berikut jawabnya..


Kita dicipta dalam keadaan tidak tahu apa-apa, meraba-raba. Yang berarti ada kelemahan pada diri kita sejak lahir, dan itu nyata. Lalu rentang waktu menguatkannya, karunia usia. Ada pembelajaran hidup di situ, dus proses bertanya jawab juga. Bertanya akan banyak hal dari dan untuk apa saja merupakan bagian dari perilaku hidup manusia. Dalam batasnya yang wajar pertanyaan bisa menyemangati asa. Sebab dengan bertanya kita jadi bergeliat dan berdaya guna. Sesudah itu biasanya segala sesuatu berubah lebih baik sebab terjawab adanya..



Illustrasi : andy.web.id